Banyak cara yang dilakukan wanita untuk menemukan pria pujaan hatinya. Ada yang melalui pendekatan intensif ada juga yang sampai ikut ajang mencari jodoh.
Wanita di Kanada misalnya, punya cara unik untuk dalam mencari jodoh yakni cukup dengan mendengar suara pria. Survei yang dilakukan para peneliti di Kanada menyebutkan sebanyak 87 wanita tertarik dengan pria bersuara rendah.
"Sampai saat ini suara mempengaruhi pemikiran seseorang, dan di Kanada suara pria rendah mampu menarik perhatian para wanita di sana, meskipun ini berisiko tipuan pria," kata Pemimpin Penelitian di Departemen Psikologi, Neurosains, dan Perilaku McMaster University’s, Jillian O'Connor dikutip Health, Kamis (24/10/2013).
Dalam penelitian, para wanita tersebut diminta mengidentifikasi suara-suara yang terdengar dalam alat elektronik, dan hasil menunjukan walaupun suara pria menipu namun suara rendah pria membuat wanita tetap tertarik.
"Pria dengan suara rendah terkadang menipu hanya menginginkan hubungan singkat, konsekuensi perselingkuhan terbilang tinggi. Karena suara yang keluar dari barang elektronik mammpu menipu," ujarnya.
Temuan ini dipublikasikan secara online sebelum diterbitkan dalam edisi cetak Personality and Individual Differences.
Ketika seseorang memutuskan untuk berdiet, dan disarankan untuk menjalani program diet Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) milik mentalis Deddy Corbuzier, banyak yang menolak dengan alasan diet ini rada tidak masuk akal. Tapi tidak sedikit pelaku diet OCD yang sudah berhasil menurunkan berat badan dengan sangat mudah, hanya dalam beberapa minggu saja.
Ivan Alfian misalnya, ia mampu menurunkan berat badan sebesar 12 kilogram hanya dalam waktu 3 minggu. Awal sebelum memulai OCD berat badannya 100 kilogram, kini beratnya sudah di angka 88 kilogram.
Begitu pun dengan Eirene. Gadis asal Bali ini kini berat badannya sudah 46,5 kilogram, yang sebelumnya bobotnya mencapai 50 kilogram. Berkat OCD, dan patuh terhadap segala aturan yang ada diet itu, Eirene dengan mudah menurunkan bobot badannya, yang dianggap besar olehnya.
Di mata Brigadir Yudah, OCD tidak hanya menyehatkan badannya, tapi juga menyehatkan kehidupan ranjangnya. Wahhhh... Setelah 40 hari menjalani OCD, ia berhasil memangkas berat badannya sebesar 10 kilogram. Awalnya, 100 kilogram, kini berat badannya 90 kilogram.
3 orang itu belum cukup membuat Anda berniat untuk ikut menjalani OCD? Oke, ada Kauhuna yang akan berbagi pengalamannya ketika melakukan OCD.
Selama sebulan, pria yang aktif berkicau di jejaring sosial Twitter ini mengaku, ia berhasil menurunkan berat badannya sebesar 9 kilogram. Jendela makan yang digunakannya adalah 24 jam. Selama sebulan, Kauhuna tidak pernah lepas sama sekali, ketika ia menjalani OCD.
"Yang saya rasain badan jadi lebih ringan, metabolisme jadi lancar. Bangun pagi, sekarang lebih gampang. Celana? Sialan, longgar semua," tutur Kauhuna saat berbincang dengan tim Health Liputan6.com, Selasa (1/10/2013)
Untuk olahraganya sendiri, pria blasteran Arab Jawa ini lebih senang nge-gym dan berenang. Selain itu, mengonsumsi air mineral tidak pernah ia lupakan, dan takarannya pun semakin banyak. "Mungkin itu juga ya, yang membuat metabolisme saya lancar. Saya bingung, kok enggak dari dulu Deddy Corbuzier menemukan diet ini?" kata Kauhuna.
Hal senada juga diutarakan Wira, 35 tahun, pegawai swasta di Jakarta.
97 kilogram merupakan berat badan awal sebelum memutuskan mengikuti diet OCD. Awalnya memang dirasa berat oleh Wira, karena ia harus mengubah ritme diet yang selama ini dijalaninya. Wira harus mengubah sarapan yang di awalnya selalu dikerjakan pada pukul 07.00 pagi, semenjak OCD sarapannya harus di jam 12.00 siang.
"Yang susah itu saja kali, ya. Kalau untuk puasanya sendiri, enggak ada masalah. Soalnya yang penting bagi saya masih bisa minum. Kalau enggak minum, baru gawat," ujar Wira.
Setelah 1,5 bulan menjalani OCD, Wira ternyata berhasil memangkas bobot sebesar 15 kilogram. Kini, berat badannya sudah di angka 85 kilogram.
"Enggak sarapan ternyata baik juga. Saya jadi enggak muda ngantuk. Selain itu, tekanan darah dan lemak saya normal. Tidak berlebih," tambah dia.
Jadi, masih ragu untuk menjalani diet OCD?
Meskipun di awal kemunculan Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) milik mentalis Deddy Corbuzier banyak menuai kontra, pada akhirnya banyak pelaku diet yang mengaku berhasil menjalani pola diet ini, dan mampu mengurangi berat badannya dengan sangat cepat.
Seperti apa pengalaman pelaku OCD yang berhasil turunkan berat badan, berikut kisahnya:
Ivan Alfian (19 tahun) turun 12 Kg dalam sebulan
Seperti yang diutarakan salah seorang pelakunya, Ivan Alfiann, 19 tahun, mahasiswa semester 3 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Cikokol, Tangerang.
Ivan mengaku, berat badan sebelum mengikuti OCD adalah 100 kilogram. Setelah 3 minggu mencoba pola diet OCD, Ivan berhasil menurunkan berat badan sebesar 12 kilogram.
"Awal mengikutinya tanggal 9 September kemarin, sampai hari ini terhitung sudah 12 kilogram turunnya. Sekarang berat badan saya, sudah 88 kilogram," kata Ivan, saat diwawancarai tim Health Liputan6.com, Senin (30/9/2013)
Jendela makan yang dipilih ketika menjalani OCD adalah 4 jam dan 24 jam. Di minggu pertama, Ivan konsisten dengan jendela makan 4 jam. Baru, di minggu kedua Ivan coba memasukkan jendela makan 24 jam di setiap minggunya, selama 2 hari berturut-turut.
"Yang 4 jam sebenarnya kalau konsisten juga turun. Tapi, akan lebih optimal kalau ada yang 24 jam," tambah dia.
Agar lebih maksimal lagi, Ivan tidak lupa untuk melakukan olahraga yang dianjurkan oleh Deddy Corbuzier di dalam buku elektroniknya, yaitu O7W (OCD 7 minutes work out). Olahraga ini hanya perlu dilakukan selama 7 menit, dan dilakukan di pagi hari atau di saat puasa sebelum ada makanan yang masuk.
Ada 12 gerakan dalam O7W yang semuanya cukup dilakukan masing-masing 30 detik saja, seperti jumping jacks, posisi duduk menahan tubuh di tembok, push up, crunch, naik turun kursi, squat, trisep, planking, lari di tempat, lunge, push up, dan slide planking.
Berhubung mulanya Ivan memiliki badan yang cukup besar, ia pun memilih untuk menghindari push up dan sit up, dan memilih senam biasa, serta naik turun tangga.
"Soalnya kata Mas Deddy, kalau masih buncit enggak perlu push up dan sit up. Latihan ini perlu, untuk ngencengin tubuh, biar tidak kendor," jelasnya.
Efek positif pun banyak dirasakan Ivan, mulai dari badan yang mulai mengecil, sampai tidak gampang ngantuk di pagi hari.
"Benar kata Mas Deddy, kalau OCD dan tidak sarapan pagi, pasti enggak bikin cepat ngantuk. Itu terbukti. Saya semenjak OCD, jadi tidak gampang ngantuk. Untuk ukuran baju, sudah jelas berubah. Dulu XL, sekarang harus ganti L," katanya.
Kini, Ivan masih melanjutkan OCD-nya, dan ingin meraih berat badan ideal yang ia cita-citakan, yaitu 75 kilogram. Dan berharap, ia dapat menularkan efek baik ini kepada kakaknya yang juga berbadan besar.
Eirene Lestari (21 Tahun) turun 3,5 kg dalam 3 minggu
Kisah lain datang dari Eirene Lestari, 21 tahun, mahasiswi semester 7 Ilmu Pariwisata, Universitas Udayana, Bali.
Eirene mengatakan, dirinya baru saja 3 minggu ini mengikuti OCD. Tapi hasilnya, ia mampu menurunkan berat badannya sebanyak 3,5 kilogram. 50 kilogram adalah berat badan pertama Eirene sebelum ia mengikuti OCD, setelah 3 minggu berlalu berat badannya kini 46,5 kilogram.
Dia menceritakan, awal mula mengikuti OCD karena sering membaca testimoni dari para pelaku diet ini yang sudah berhasil menurunkan berat badan di jejaring sosial Twitter. Sejak saat itu, tanpa pikir panjang Eirene memutuskan untuk ber-OCD.
Jendela makan yang dipilih olehnya beragam. Terkadang 8 jam, 6 jam, dan seminggu 2 kali mengambil jendela makan 24 jam.
"Saya enggak lemas, walaupun saya punya maag akut. Selama OCD, sumpah deh, enggak berpengaruh sama sekali. Jangan takut maag kambuh," terangnya.
Selain itu, Eirene mengaku kalau kini ia lebih fresh, dan insomnia sudah hilang. Dulu, ia susah sekali tidur di bawah jam 2 pagi, tapi kini jam 10 atau jam 11 malam, ia sudah mengantuk, dan tidurnya pulas.
"OCD bikin saya lebih fresh. Dulu susah tidur, sekarang sudah enggak. Saya takjub sama OCD. Percaya enggak percaya, tapi ini kenyataannya," pungkasnya.
Brigadir Yudha (28 Tahun), turun 10 Kg dalam 40 hari
Senada dengan dua lainnya, Brigadir Yudha dari Polrestabes Semarang ikut merasakan dampak positif dari OCD ini.
19 Agustus 2013, sewaktu ia mengikuti OCD untuk pertama kalinya, berat badannya adalah 100 kilogram. Sampai hari, terhitung sudah 40 hari ia menjalani OCD, dan berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 10 kilogram.
Dua hari pertama mengikuti OCD, ia memilih jendela makan 6 jam. Baru di dua hari berikutnya, ia memilih jendela makan 4 jam. Merasa usahanya kurang optimal, tanpa pikir panjang ia memilih untuk melakukan jendela makan 24 jam, setiap harinya.
"Jadi, saya makannya cuma jam 12 siang. Habis itu, puasa lagi. Enaknya, saya bisa makan nasi padang, ayam goreng, dan semuanya adalah kesukaan saya," katanya saat diwawancarai tim Health Liputan6.com .
Yudha juga menceritakan, semenjak OCD ketika bangun pagi tidak lagi males, beda dengan dulu. "Dulu saya itu bangun pagi bawaannya malas. Semenjak OCD, bangun jam 4.30 pagi, segar dan bawannya pun tidak malas," tambah dia.
OCD ini, lanjut Yudha, selain bagus untuk kesehatan, untuk perut, bagus juga buat dompet. Dulu, sang istri suka mengeluh melihat kelakukan suaminya yang selalu pulang dengan membawa gula, dan cemilan. Sekarang, gula dan cemilan itu sudah tidak ada lagi.
"Sekarang enak, lebih banyak mensave uang yang tidak perlu," tambah dia.
Sambil berseloroh ia mengatakan, bahwa OCD yang diklaim gratis sebenarnya tidaklah gratis sama sekali. Pasalnya, setiap minggu ia harus mengeluarkan uang buat sesuatu yang dilakukannya karena OCD.
"Ha ha ha ... Sekarang saya tiap minggu harus jahit baju dan celana. Tiap minggu harus ngecilin pakaian lagi. Tukang jahit saya sampai nanya, apa yang sebenarnya terjadi, kok saya sampai mengecilkan pakaian terus menerus. Jadi, OCD itu tidak gratis, OCD itu bayar. Tapi, bayar untuk sesuatu yang baik bagi kita," canda dia.
Selain berpuasa, Yudha pun rutin melakukan olahraga yang dianjurkan ketika melakukan OCD, yaitu O7W dan ditambah dengan angkat beban.
Sekarang, ia akan mengajak teman-temannya untuk mengikuti OCD ini. "Saya kan, sudah berhasil menjalani OCD, dan sudah terlihat buktinya. Saya juga mau teman-teman saya melakukan ini," lanjutnya.
Untuk urusan ranjang, Yudha mengatakan OCD ikut berperan penting. Pasalnya, semenjak diet OCD, dia kini lebih mampu memuaskan sang istri, karena mampu 'bermain' dengan durasi cukup lama.
"Kehidupan jasmani sehati, seksual pun sehat. Semua berkat OCD. Pokoknya, kalau ada yang bilang OCD itu negatif, enggak benar. Semua hasilnya baik kok," tutup dia.
Penyanyi muda Katy Perry mengakui jika dirinya tengah menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder), sejenis penyakit 'kecemasan' yang belakangan ini banyak dialami oleh masyarakat umum.
Bahkan, gara-gara penyakitnya itu, pelantun 'Fireworks' itu pun jadi memiliki kebiasaan aneh yang kerap dilakukannya saat beristirahat di rumah.
Apalagi, seperti diketahui, Katy sangat terobsesi untuk menyingkirkan semua kuman yang ada di tempat tinggalnya.
"Saya sangat OCD." ungkap Perry seperti dikutip dari harian Showbiz Spy, Minggu (28/9/2013). "Saya selalu berusaha menempatkan semua hal dalam urutan abjad. Tak hanya itu, seperti halnya Howard Hughes, saya juga sangat anti pada kuman." lanjutnya menambahkan.
Selain berbicara mengenai OCD, Katy juga menyempatkan diri untuk menyuarakan dukungan terhadap penyanyi kontroversial Miley Cyrus. Menurutnya, meski kerap memperlihatkan kelakuan nakal, Miley tetaplah penyanyi dengan suara yang hebat.
"Dia punya suara yang menakjubkan. Saya pernah mendengar dia menyanyikan lagu 'Wrecking Balls' sebelum dirilis. Dan itu benar-benar membuat saya kagum." ujar Katy Perry
Ditambahkannya, sama seperti para punggawa panggung hiburan lainnya, Miley juga memiliki hak atas dirinya dalam hal penampilan. Alhasil, meski banyak dicela oleh para penikmat musik, Perry tetap menganggap Miley sebagai pemberani, terutama dengan pilihan yang diambilnya.
"Orang lain tak berhak menghakimi Miley. Dia tahu apa yang dipilihnya." tutup Perry singkat.
Saat melakukan diet dengan metode 'puasa berselang', seperti Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) dan Intermittent Fasting (IF), pelaku diet dibebaskan untuk mengonsumsi apa saja yang diinginkan ketika waktu berbuka tiba. Alangkah baiknya, ketika berbuka tidak makan sembarangan, dan memperhatikan jumlah nutrisinya.
Bila ingin mengonsumsi karbohidrat, pakar nutrisi dan diet dari Universitas of Sidney, Leona Victoria Djajadi MnD mengatakan, minimal yang dikonsumsi antara 50 sampai 60 gram. Dengan catatan, jika mengikuti low carbohidrat atau high protein diet. Atau, 5-6 gram per kilogram berat badan.
"Karbohidratnya juga pilih-pilih, jangan sembarangan. Pilihlah yang berkualitas, seperti wholegrain, roti gandum, buah-buahan, kacang-kacangan dan polong-polongan," terang Leona saat diwawancarai tim Health Liputan6.com, Jumat (30/8/2013)
Untung kacang-kacangannya, pilihlah juga jenis kacang-kacangan yang baik untuk tubuh, seperti kacang merah, lentil, chickpeas, dan soya.
Karena kultur masyarakat Indonesia adalah pemakan berat nasi, Leona menganjurkan, untuk menambahkan pipilan jagung, kacang polong, dan wortel rebus ke dalam nasinya sewaktu nasinya matang. "Jadi, nasinya lebih berisi dan bernutrisi," tambah dia.
Pun dengan protein yang akan dikonsumsi. Ada baiknya untuk memasukkan protein 1-2 gram per kilogram berat badan. Mulai dari ayam, daging, ikan, telur dan produk susu.
"Jangan lupa, pilihlah yang low fat varieties, sisihkan lemak yang menempel, dan buang kulit ayamnya," ujar Leona.
Yang terakhir, dan amat penting adalah serat. Buah-buahan dan sayur-sayuran jangan pernah lupa untuk dikonsumsi. Ini penting, supaya saluran pencernaan tetap sehat, dan pada saat buang air besar jadi lancar.
"Untuk yang kesulitan makan banyak dalam waktu singkat, mungkin boleh membuat seperti smoothie (campuran susu/yoghurt low fat) ditambah buah, atau jus sayur dicampur buah," tutup dia.
Dengan memperhatikan beberapa hal seperti ini, Anda pun akan cepat mencapai berat badan yang ideal, dan sudah tentu sehat. Selamat mencoba.

.gif)





